[Resensi Buku Non Fiksi] Oase Kehidupan dari Padang Pasir




Judul: Oase Kehidupan dari Padang Pasir
Pengarang: diday Tea
Penerbit: Quanta
Tebal: 258 hlm + xv
ISBN: 978-602-00-3379-2


Sadarkah kamu bahwa setiap peristiwa yang terjadi dalam hidupmu tak sia-sia.

Kita selalu tahu bahwa apa yang terjadi setiap jam, menit, dan detiknya semua atas kehendak Allah, atas rencana-Nya dan sudah ditakdirkan oleh-Nya, tapi apakah kamu menyadari bahwa semua itu berharga, semua itu istimewa. Tak ada yang sia-sia selama kita bisa mengambil hikmah dari setiap peristiwa yang terjadi dalam hidup kita.

Itulah yang disuguhkan dalam buku Oase Kehidupan dari Padang Pasir karya Kak Diday. Dalam buku itu Kak Diday menceritakan berbagai peristiwa yang dialaminya sehari-hari, yah sesedehana itu, tapi ia bisa mengambil hikmah dari segala hal yang sederhana dan menyadari bahwa semua itu istimewa dan berharga, dan akhirnya buku ini ada, menjadi pembuktian bahwa tak ada yang sia-sia.

Dalam buku ini terdapat 50 ragam kisah yang diceritakan dengan tekhnik bercerita yang menarik, kita seperti diingatkan secara perlahan bahwa beberapa hal yang kita lakukan sehari-hari –yang menurut kita benar- ternyata adalah hal yang menjerumuskan kepada hal-hal buruk. Lihat cerita yang berjudul “Biar Cepat Asal Selamat”, sebaliknya setiap harinya kita sering mendengar pribahasa “biar lambat asal selamat” dan mengaplikasikannya pada kehidupan kita, padahal untuk beberapa hal tertentu baiknya kita meninggalkan pribahasa itu dan mulai menjalani hidup dengan lebih gesit dan tangkas lagi, bukankah orang-orang yang lambat akan tertinggal?

Cerita yang berjudul “Mengalir Seperti Air? Ke Laut Aje!” seperti menampar saya, karena terkadang saya berfikir sama, meyerahkan hidup saya pada takdir dan menunggu apa yang terjadi, yah seperti air, mengalir terbawa arus. Apakah kita menyadari bahwa ditengah perjalanan akan ada batu besar yang akan menghantam, dalam hidup batu besar itu seperti ‘cobaan’ dan jika hidup kita mengalir seperti air, apakah kita sudah memiliki persiapan untuk menghadapi ‘cobaan’ tersebut. Ataukah kita mau mengambil dayung dan mulai menyetir ‘perahu’ kehidupan kita sendiri, menyetir masa depan kita sendiri. Tentu manusia hanya dapat merencanakan dan tetap Allah yang menentukan, tapi dengan merencanakan kehidupan kita akan siap menghadapi hantaman-hantaman batu besar.

Pada cerita “Pusing Tujuh Keliling Forever” Kak Diday memberi sentuhan fiksi, seperti sebuah cerpen. Kisah ini mengingatkan kita bahwa alasan kita diciptakan semata-mata untuk beribadah kepada Allah. Renungkanlah, apa selama ini ibadah kita diterima? Maka mulailah memperbaiki kualitas ibadah kita agar lebih baik lagi

Sungguh banyak pelajaran yang dapat diambil dalam buku ini, dan mungkin hidup kita bisa bisa lebih banyak memberi hikmah, tinggl bagaimana kita menyikapinya. Apakah ingin menjalani hidup kita terus-menerus tanpa perubahan ataukah ingin mulai menghargai setiap peristiwa yang terjadi dalam hidup kita.


Komentar