[Review Novel] Coba Tunjuk Satu Bintang



Judul: Coba Tunjuk Satu Bintang
Pengarang: Sefryana Khairil
Editor: Mita M. Supardi
Proofreader: Jumali Ariadinata
Penata letak: Gita Ramayudha
Desainer sampul: Amanta Nathania
Penerbit: Gagas Media
Tebal: 210 hlm + vi
Rilis: Juni 2013 (cet ke-1)
ISBN: 978-979-780-647-7

Adakah Tuhan sedang memberi jeda untuk kita atau memang tak ada nama kita dalam takdir-Nya?
Menjalani hari bersamamu begitu menyenangkan. Tidak ada yang lebih daripada dirimu yang aku inginkan. Kita tenggelam dalam riuhnya impian, hingga baru tersadar setibanya di persimpangan. Aku dan kamu berbeda tujuan.
Namun, kita sama-sama ragu apakah perpisahan yang benar-benar kita inginkan. Kita memutar arah, berusaha kembali dari sudut yang berseberangan.
Mungkin kita bisa bertemu kembali di ujung jalan yang sama. Mungkin kita bisa merajut kembali mimpi yang tertunda.
-----------

Ketika dua orang bersama-sama dalam satu perjalanan, tapi saling kehilangan. Keduanya berusaha percaya mereka sedang melangkah di arah yang sama, tapi kenyataan menyadarkan, mereka berjalan bersilangan.

Ditinggalkan oleh orang yang dicintai sebelum hari pernikahan yang tinggal menghitung minggu dilangsungkan, hanya demi sebuah cita-cita. Itulah yang dialami Marsya. Ditinggalkan kekasihnya, Dio, sebelum perhelatan pernikahan mereka dilangsungkan.



“Aku tahu mimpimu lebih berarti daripada apa yang udah kamu miliki.”

Baiklah, memang bukan ditinggalkan karena alasan gadis lain, atau karena tidak direstui orang tua, melainkan karena cita-cita. Tapi tetap saja itu keterlaluan, masalahnya yang ditinggalkan bukan sekedar seorang pacar, melainkan calon istri yang akan dinikahi beberapa minggu lagi.

Aku benar-benar nggak habis pikir sama Dio, meskipun pada akhirnya ia menyesali keputusannya yang terlambat –setelah tiga tahun- tapi disini lah letak faktanya. Yah, fakta kalau kebanyakan cowok egois dan selalu berambisi mendapatkan apa yang diinginkan, apalagi itu adalah gadis yang dicintainya.

“Lo tau sendiri gimana Fandy ke gue. Gimana Bokap ngga nganggep gue. Pas ada tawara itu, gue merasa itu saatnya gue buktiin ke kelurga gue kalau gue juga bisa jadi orang!”

Sayangnya, aku Merasa karakter Marsya kurang terbentuk dengan matang. Mengalami kegagalan seperti itu, hanya dengan waktu singkat ia kembali menerima Dio dengan mudah, seperti dulu yang dialaminya bukanlah apa-apa. Seperti kejadian itu tidak memberi bekas apa-apa.

Kalo aku jadi Marsya, aku lebih memilih Andro. Cowok itu bisa bikin Marsya nyaman. Apa lagi setelah Marsya kembali bertemu Andro, lukisannya jadi lebih cerah. Tidak sesuram dulu. Tahun-tahun dimana ia melewati hidupnya setelah ditinggalkan Dio.

“Aku mau liat kamu melukis seperti dulu lagi; bersemangat dan menjiwai,” kata Andro.

Juga kedua sahabat mereka –Kimmy dan Rama- andaikan saja keduanya memiliki porsi yang cukup dalam novel ini. Maksudku, ada sedikitnya kehidupan pribadi mereka yang diceritakan disini. Karena setiap kali kemunculan mereka, yang mereka lakukan hanya mengurusi hubungan Dio-Marsya, seolah mereka berdua nggak punya kehidupan pribadi.

“Karena untu urusan cinta nggak selalu sebesar apapun kita memberi, sebesar itu pula kita menerima.” Mata Marsya mengarah pada bintang di langit.

Tapi tetap aja, Kak Sefry selalu membuat dialog-dialog yang ‘ngena’ banget ke hati. Novel in ditulis dengan lembut. Mendayu, seperti kebanyakan novel Ka Sefry yang sebelum-sebelumnya dengan genre Domestic Drama. Andai saja novel ini bisa lebih panjang. Maksudku, ada banyak hal yang bisa digali lagi dari kisah ini.
Semua kembali kepada para pembaca, dengan nilai yang berbeda-beda.

Komentar