[Review Novel] London- Angel



Judul: London- Angel
Penulis: Windry Ramadhina
Editor: Ayuning & Gita Romadhona
Proofreader: Jia Effendie
Penata letak: Gita Ramayudha
Desain sampul: Levina Lesmana
Ilustrasi isi:Diani Apsari
Penerbit: Gagas Media
Tebal: 327+ viii hlm
Rilis: 2013
ISBN: 978-979-780-653-8
 

Pembaca Tersayang,
Mari berjalan di sepanjang bantaran Sungai Thames, dalam rintik gerimis dan gemilang cahaya dari London Eye.
Windry Ramadhina, penulis novel Orange, Memori, dan Montase mengajak kita menemani seorang penulis bernama Gilang mengejar cinta Ning hingga ke Fitzrovia. Namun, ternyata tidak semudah itu menyatakan cinta. Kota London malah mengarahkannya kepada seorang gadis misterius berambut ikal. Dia selalu muncul ketika hujan turun dan menghilang begitu hujan reda. Sementara itu, cinta yang dikejarnya belum juga ditemukannya. Apakah perjalanannya ini sia-sia belaka?
Setiap tempat punya cerita.
Dalam dingin kabut Kota London, ada hangat cinta menyelusup.
Enjoy the journey,

Editor
-----------



Konon, hujan turun membawa serta malaikat surga

Bercerita tentang Gilang, seorang editor buku sastra yang pergi ke London untuk mengejar cinta sahabat semasa kecilnya, Ning. Meski awalnya ia pikir menyusul Ning ke London adalah ide gila yang dicetuskan empat sahabatnya, pada akhirnya ia sampai di London, kota impian pujaan hatinya itu.

“Lagian, gadis mana yang tak luluh hatinya saat didatangi oleh lelaki yang menempuh ribuan kilometer cuma untuk mengatakan cinta?”

Sayangnya, perjuangan Gilang tidak berjalan lancar. Hari pertama kedatangannya di London, ia mendapati Ning tidak berada di rumah indekosnya.

Ah, aku gemas kepada diriku sendiri. Sebagai seorang penulis, terlebih aku adalah seorang penulis roman, seharusnya aku tahu hal utopis semacam 'mengejar gadis ke London atas nama cinta' hanya berjalan lancar dalam kisah-kisah fiksi.

Untuk mengisi kekosongannya, atas saran seorang pelayan di tempat penginapannya ia pergi ke London Eye –sebuah kincir raksasa yang memperlihatkan pemandangan indah kota London.

Disanalah, ia bertemu dengan seorang gadis kaukasoid berambut cokelat keemas-emasan. Gilang dibuat begitu terpesona olehnya.
London Eye

Aku mengangguk pelan. “Ya.” Kincir raksasa itu. Plaza ini. Gadis di sebelahku. Benar... cantik. Oke, ada apa denganku? Aku seperti berada dibawah pengaruh sihir.

Hujan turun, gadis itu menawarkan sebuah payung merah untuk dipakainya bersama, lalu tanpa bisa menolak pula, gadis itu berhasil membawa langkahnya menaiki London Eye yang begitu menjulang tinggi hingga tak sadar waktu kebersamaan mereka habis bersama hujan yang mereda.

----ooOOOoo----

London adalah novel Mba Windry Ramadhina yang kelima. Merupakan salah satu seri setiap tempat punya cerita –STPC- GagasMedia dan Bukune.
Ketika membaca novel ini, aku seperti duduk didepan seorang lelaki yang tengah bercerita tentang kisah cintanya padaku. Alurnya yang maju-mundur tak membuatku  pusing sama sekali. Justru aku semakin terbawa oleh kisahnya, tentang bagaimana ia dan Ning bersahabat, dan kapan akhirnya ia mulai memendam cinta pada gadis itu.

Penggambaran latar yang begitu jelas semakin memberi nilai plus buku ini, salut dengan bagaimana Mba Windry mengumpulkan riset hingga menjadi naskah yang matang, atau mungkin ia sudah pernah menelusuri setiap tempat yang ada dalam novel ini. (entahlah, aku harap dapat kesempatan mengupas habis informasi dibalik kesuksesan novel ini).

Kecintaan Ning pada dunia seni-pun tergambarkan dengan sangat indah, membuatku ikut merasakan kebahagiaannya yang besar tiap kali bercerita tentang dunia seni yang dicintainya itu, meskipun aku tidak mengerti apapun tentang seni, tapi aku yakin akan terpesona juga melihat mahakarya-mahakarya seni yang terpajang indah dimusium-musium itu.

Pada pertengahan cerita, aku sudah mulai curiga dengan akhir perjuangan cinta Gilang yang dari awal memang tidak berjalan lancar. Jelas sekali selama di London, pertemuannya dengan Ning tak begitu banyak, hari-harinya di London kebanyakan ia habiskan dengan orang-orang yang ada di tempat penginapannya, Madge.

Temanku itu berdeham. Senyum di bibirnya menguap. Sorot matanya pun berubah, tidak lagi berkilat jail seperti sebelumnya. Dia mengambil jeda sejenak, membuat aku penasaran, lalu katanya, “Dengar. Di akhir kencan nanti, kalau kau tidak yakin Ning punya perasaan yang sama denganmu, jangan katakan apapun.”

Orang –orang yang ada disana diceritakan dengan cukup detil. Bahkan ada kisah cinta yang cukup menarik antara Madam Ellis, sang pemilik Madge –penginapan- yang galak, dan Mister Lowesley, pemilik toko buku di seberang penginapan.

Tapi yang menarik perhatianku, tentu saja pertemuan-pertemuan Gilang dengan seorang gadis berambut cokelat keemasan setiap kali hujan rintik membasahi kota London yang ia sebut Goldilock -gadis dalam salah satu dongeng Inggris- yang belakangan ia ketahui bernama Angel.
London Tower

Dia membalas tatapanku. Kami direngkuh keheningan untuk beberapa detik, lalu katanya, “Tidak lama lagi hujan berhenti.”
Lagi-lagi, dia memakai alasan absurd itu. “Memangnya, kenapa kalau hujan berhenti?” Aku bertanya.

Secara keseluruhan aku sangat menikmati kisah ini dan semakin mengagumi cara penulisan Mba Windry yang begitu memikat.

Komentar

  1. Jadi penasaran sama ceritanya. Pengen baca, tapi belum sempet.. hehheee... ^^

    BalasHapus

Posting Komentar