[Review Novel] Beauty Sleep



Judul: Beauty Sleep
Pengarang: Amanda Inez
Editor: Jia Effendi
Proofreader: Mita M. Supardi
Penata letak: Gita Ramayudha
Desainer sampul: Amanta Nathania
Penerbit: GagasMedia
Tebal: 223+ viii hlm
ISBN: 978-979-780-634-7


Tuan Putri,
Kita berasal dari tempat yang berbeda dengan sedikit kesamaan nasib. Kita dipertemukan oleh surat-surat dan kartu pos dari ibumu yang kutemukan ketikamenyelamatkan sebuah kantor pos yang terbakar. Setelah itu, hari-hari kita lebih berwarna,meski matamu hanya melihat kegelapan.


Namun kini, aku bahkan tak bisa melihatmu tersenyum. Dirimu disekap tidur panjang tanpa tahu kapan akan membuka mata. Aku merindukanmu, Putri. Kumohon, bangunlah!
-----------

Kak Amanda menggunakan sudut pandang orang pertama dalam novelnya yang berjudul Beauty Sleep, dan itu membuat novel ini penuh dengan narasi sedangkan porsi dialognya sedikit sekali. Cara penyampaiannya cukup bagus, penggunaan kalimat demi kalimat yang  enak dibaca, walau ada pula penyampaian deskripsi yang sulit kucerna di beberapa bagian.

Tapi, untuk aku yang tidak begitu menyukai novel yang porsi narasinya begitu panjang novel ini sedikit membuatku bosan, kerap kali aku meninggalkan dua-tiga paragraf dan hanya menangkap sedikit maksud dari tiap paragrafnya, mungkin juga karena aku baru pertama kali membaca karya Kak Amanda Inez –aku juga tidak tahu ini novel pertamanya atau bukan, atau ia sudah pernah menerbitkan novel lain sebelumnya- sehingga aku belum bisa sepenuhnya menikmati dan meresapi tiap baris kalimat dalam novelnya.

Aku juga cukup bingung di awal, menebak-nebak siapa tokoh sentral  yang sudut pandangnya dipakai oleh penulis. Menebak apakah dia tokoh perempuan ataukah tokoh lelaki. Mungkin aku saja yang kurang mencermatinya dari awal.

Novel ini cukup membuatku penasaran dan membuatku terburu-buru ingin tahu tiap-tiap rahasia yang diungkapkan sang tokoh yang sepotong-sepotong. Yah, aku agak bingung menyebut novel ini beralur maju atau mundur, karena keduanya terdapat dalam novel ini, meski begitu, aku bisa mengikutin kemana sang tokoh sentral membawaku pada tiappotongan-potongan memorinya.

Aku berharap di akhir cerita, aku menemukan pesan terakhir Zack –sahabat si tokoh sentral- entah berupa surat atau apapun. Aku berharap ia mengutarakan isi hatinya, apa yang menjadi beban pikirannya, juga mengutarakan rasa sesal karena selama bertahun-tahun bersahabat dengan si tokoh sentral, ia sering kali memanfaatkannya.

Lalu si putri itu, aku agak bingung dengan bagaimana karakternya. Apakah ia sebenarnya memang berhati lembut bagaikan malaikat, dan sifat-sifat buruknya itu ada hanya karena depresinya, atau malah sebaliknya. Di tengah cerita ia berkata tidak berniat mengembalikan penglihatannya karena tidak punya alasan yang cukup kuat untuk melakukannya. Tapi di bagian lain, ia menunjukkan sisi keputus-asaannya karena kehilangan penglihatan bahkan kerap kali membenturkan kepalanya ke tembok.

Dan terakhir, aku merasa janggal pada epilognya. Dari awal cerita, Kak Amanda menggunakan sudut pandang orang pertama, tapi pada epilog, ia merubahnya menjadi sudut pandang orang ketiga. Sungguh itu tidak masalah, hanya saja menurutku itu agak ‘nanggung’ hehe..

Aku suka kisah Ralph Gregory Phillips ini. Yah, akhirnya aku tahu namanya di akhir kisah, di bagian epilog.

Komentar