[Cerpen] Verzasca in Love



Irene menjelajahi keindahan alam yang ada di hadapannya dengan kedua bola matanya. Sepanjang perjalanan gadis itu tak banyak bicara. Ia hanya bersuara setiap kali seseorang disampingnya mengajak bicara, itupun ia balas dengan kata-kata singkat.
Ia tidak bisa membayangkan apa yang akan dihadapinya beberapa hari ke depan. Bukan ini yang diharapkannya, di kota yang menjadi impiannya menghabiskan sisa hidup bersama orang yang dicintainya.
Ia merasakan genggaman tangan seseorang menguat. Matanya beralih menatap seorang di sampingnya itu. Farhan, lelaki yang sangat dicintainya.
“Sebentar lagi kita sampai,” bisik Farhan.
-oOOo-
Keduanya sampai di sebuah penginapan sederhana yang di sekelilingnya terbentang pemandangan-pemandangan indah. Tiba-tiba pintu terbuka dan dua orang dalam penginapan itu keluar menghampiri Farhan dan Irene.
“Kak Farhan…,” teriak salah satu dari mereka. Dia adalah Marisca, seseorang yang menjadi alasan Irene dan Farhan terbang jauh-jauh ke Swiss.
Tanpa rasa canggung, gadis itu langsung memeluk Farhan. Irene terkesiap, matanya perih, hatinya nyeri melihat pemandangan tak mengenakkan itu.
Farhan tak membiarkan gadis itu memeluknya berlama-lama. Ia buru-buru melepaskan pelukan Marisca lalu menggamit lengan Irene, menarik tubuh gadis itu yang tengah berdiri di balik punggungnya.
Okay, kita masuk ke dalam dulu aja. Kalian pasti capek kan?” ucap seorang lelaki yang tadi keluar bersama Marisca. Ia lalu menarik koper yang tergeletak di depan Irene dan membawanya masuk, diikuti yang lainnya.
Irene mendapatkan sebuah kamar untuk dirinya sendiri, dalam hati ia bersyukur tidak perlu berbagi kamar dengan Marisca. Hatinya selalu tidak keruan setiap kali berdekatan dengan gadis itu.
Seseorang mengetuk pintu kamarnya, dengan malas ia menghampiri pintu dan membukanya. Tanpa menunggu persetujuan Irene, Farhan langsung masuk dan duduk di tepi ranjang kamar Irene.
“Capek yah? tanyanya basa-basi. Irene tak menggubris, ia membuang muka ke arah jendela yang menyajikan pemandangan deretan pegunungan Alpen yang indah. “Please,  jangan begini. Kita kan udah setuju untuk tinggal di sini sepuluh hari aja. Anggap aja kita lagi jalan-jalan. Lagi pula, bukannya kamu udah lama banget pengen ke sini? Besok kita ke Verzasca ya?” Farhan menarik kedua lengan Irene dan menggenggamnya erat.
“Aku memang mau ke sini, tapi untuk liburan sama kamu. Bukan untuk ngurusin orang yang sakit ji...”
“STOP Irene. Kamu bisa kan ngertiin posisinya Marisca sekarang? Dia lagi trauma berat, dia butuh seseorang di sampingnya,” Farhan memotong ucapan Irene. Lalu dilihatnya wajah Farhan oleh gadis itu, rahangnya mengeras menahan emosi. Ia selalu tidak suka setiap kali Farhan membela gadis itu dan menimbulkan perdebatan di antara mereka.
“Dan seseorang itu adalah kamu? Dari jutaan manusia yang ada di bumi, ratusan orang yang dikenalnya, yang dia butuhkan cuma kamu? Waw, it’s so fantastic. Selamat, kamu orang yang terpilih,” sindir Irene, tajam.
Farhan melihat kekecewaan di mata Irene. Gadis itu jelas tampak terluka, tapi ia malah tidak dapat berbuat apa-apa untuk gadis yang dicintainya. “Maafin aku, Ren. Kamu harus percaya sama aku. Aku menganggap Marisca cuma sebatas adik, cuma kamu satu-satunya orang yang aku cintai.”
Irene menghembuskan nafas keras. “Aku capek, sebelum kita berdebat makin panjang lebih baik kamu keluar. Aku mau istirahat.”
-oOOo-
Marisca adalah adik kelas beda dua tingkat di bawah Farhan di Trisakti, tempatnya mengecap pendidikan S1. Mereka sama-sama berada di fakultas seni rupa dan desain tapi berbeda jurusan. Irene lupa bagaimana tepatnya awal perkenalan mereka, dan ia bersyukur bahwa ia lupa, setidaknya itu mengurangi rasa sakit yang menyesakkan dadanya tiap kali mengingat kedekatan mereka.
Awalnya, ia mengira Marisca hanyalah teman kuliah Farhan. Tapi, Irene mulai curiga ketika ia sering mendapati telepon dan pesan yang masuk ke ponsel Farhan selalu dari gadis itu.
Farhan bilang kalau ia hanya menganggapnya sebagai seorang adik. Tapi bagaimana ia bisa percaya jika tiap kali ia mendapati keduanya saling memberi perhatian yang berlebihan. Ia berani taruhan, tidak pernah ada dua orang yang berlainan jenis memiliki hubungan dekat –entah sebagai sahabat ataupun adik tanpa ada perasaan lain, bahkan dalam film drama ataupun buku fiksi.
Dan sekarang ia dan Farhan berada di sini untuk gadis itu. Ini membuatnya frustasi. Dua hari sebelumnya adalah terakhir ia dan Farhan bertengkar memperdebatkan hal ini.
Marisca baru saja mengalami trauma berat. Kecelakaan yang baru saja dialami ibunya hingga merenggut nyawa, serta perceraian kedua orang tuanya sebelum kecelakaan terjadi. Dan semuanya membuat gadis cantik itu depresi.
Selama ini, ia memang patuh hanya pada kata-kata Farhan. Hanya Farhan yang bisa menenangkan kegelisahannya, hanya lelaki itu yang bisa meredakan kemarahannya, mengendalikan sikap tempramennya. Bahkan dengan begitu banyak lelaki yang pernah menjalin hubungan dengannya, tak ada satupun yang bisa menenangkan sikap tempramen gadis itu. Dan itu membuat Marisca selalu bergantung pada Farhan, dan itu juga membuat hati Irene sakit.
-oOOo-
  
    
Irene tak percaya bisa menyaksikan sungai Verzasca yang tampak berwarna hijau jernih langsung dengan kedua matanya. Sebelumnya ia hanya mengagumi keindahannya dari foto dan video.
Hatinya jadi lebih tenang ketika mendengar suara gemerisik air mengalir. Ia berjalan menghampiri area yang permukaan airnya lebih tenang, melihatnya membuat ia semakin tak sabar menenggelamkan dirinya ke dasar sungai, membuktikan keindahan dasar sungai Verzasca oleh dirinya sendiri.
“Hati-hati jalannya! Nanti kepeleset,” seru Farhan, buru-buru ia menyejajarkan langkahnya dengan Irene dan menggenggam tangannya.
Irene selalu suka tiap kali jari-jemarinya digenggam erat oleh Farhan, hanya dengan sentuhan itu pun rasa hangat sudah menjalari hatinya, merasa aman, terlindungi, dan begitu dicintai.
“Han, sini bantuin gue,” Irene dan Farhan menoleh, dari kejauhan Eldrick tampak kerepotan membawa alat-alat diving yang akan mereka gunakan.
“Aku bantuin Eldrick dulu ya,” ujar Farhan, Irene hanya menganggukan kepalanya, lalu Farhan buru-buru berjalan menghampiri Eldrick.
“Kalo aku jadi kamu, aku juga nggak akan ngelepasin Farhan,” Irene yang tak menyadari keberadaan Marisca di sampingnya menoleh. Gadis itu tengah menelungkupkan lengannya.
“Jadi, apa kamu menyadari perasaan kamu sama Farhan sekarang? You love him, don’t you?” Irene berbicara dengan nada sesinis mungkin, Marisca menanggapinya dengan hanya tersenyum sinis.
“Begitulah,” gumamnya, senyuman sinis di bibirnya kembali mengembang. “Karena kamu sudah tahu, jadi kamu hanya perlu bersiap-siap,” lanjutnya.
Lengan Irene terkepal, amarahnya memuncak, hampir saja ia menampar Marisca jika Farhan tidak tiba-tiba muncul di hadapannya dan merangkul pundaknya.
“Udah siap nyelam?” tanya Farhan.
-oOOo-
Dingin air sungai Verzasca menggelitik kulitnya. Setelah puas menyelam, ia duduk di tepi sungai sambil mencelupkan kakinya. Perjalanan ke Swiss ini merupakan pengalaman pertama baginya, ditambah lagi mendatangi sungai Verzasca yang sangat ingin diselaminya merupakan pengalaman yang tak akan terlupakan. Meskipun ia juga harus mengingat keberadaannya di sini karena Marisca.
Dalam dasar sungai, ia bisa melihat dengan jelas batu alam yang indah, air yang teramat jernih sampai-sampai ia dapat dengan jelas melihat jembatan yang membentang di atas permukaan sungai.
Ia mengetahui keindahan tempat ini dari temannya yang seorang diving, selain berbagai foto yang ditunjukkan, temannya juga menunjukan video ketika ia menyelami dasar sungai.
Ia tahu banyak tempat-tempat yang tak kalah indah dari Verzasca di Indonesia. Hanya saja ia belum memiliki kesempatan. Farhan selalu saja sibuk. Setelah empat tahun kuliahnya yang rapi, hanya dalam hitungan hari ia langsung mendapat pekerjaan dan itu membuatnya tak punya banyak waktu untuk menghabiskan liburan panjang dengan Irene.
“Udah selesai berenangnya?” tanya Farhan, Irene merasakan pelukan Farhan dari belakang. Ia meronta minta dilepas, tapi pelukan Farhan malah semakin menguat. “Maaf kalau selama ini aku terlalu sibuk,” ujar Farhan, Irene merasakan embusan nafas Farhan menggelitik telinganya.
“Aku cuma mau kamu tahu, kalau kamu nggak tergantikan. Ketika aku memutuskan mau datang ke sini, itu semua bukan demi Marisca. Justru aku mau nunjukkin sama dia keseriusan aku sama kamu, berharap dia ngerti dan nggak terus bergantung sama aku.” Farhan membalikkan tubuh Irene, membuatnya menghadap tepat di depannya, memandang lurus ke kedua bola matanya.
Farhan mengambil sebuah kotak dari belakang tubuhnya lalu membukanya, sebuah cincin dengan kilauan indah berlian ada di dalamnya.Would you be mine? Forever?”
Pipi Irene menghangat, apa yang ia lihat sekarang –senyum Farhan, sebuah cincin yang ditunjukkan di depan matanya ia benar-benar merasa ini sebuah mimpi. Keindahan alam yang Tuhan ciptakan seolah menjadi saksi.
Dalam hati Irene bersumpah, ribuan Marisca-pun tak akan mampu merebut Farhan dari sisinya.

Komentar

  1. mana nih cerpent buatan lu lngsng..
    klo udah ada gw yg bakal jdi pembeli perama deh, wlpun gw g seneng baca, :D

    BalasHapus
  2. bukunya? hehehe ditunggu yah :D
    bener loh awas ja kalo udah ada ga dibeli :p

    BalasHapus

Posting Komentar