[Review Novel] Hujan & Teduh

Judul : Hujan & Teduh
Penulis : Wulan Dewatra
Editor: Jenny Jusuf
Proofreader: Christian Simamora, Resita W. Febiratri
Penata letak: Dian Novitasari
Desain sampul: Jeffri Fernando
Penerbit: Gagas Media
Tahun Terbit: 2011
Halaman : 248 + v hlm
ISBN: 978-979-780-498-5


Kepadamu, aku menyimpan cemburu dalam harapan yang tertumpuk oleh sesak dipenuhi ragu.

Terlalu banyak ruang yang tak bisa aku buka. Dan, kebersamaan cuma memperbanyak ruang tertutup.
Mungkin, jalan kita tidak bersimpangan. Ya, jalanmu dan jalanku. Meski, diam-diam, aku masih saja menatapmu dengan cinta yang malu-malu.

Aku dan kamu, seperti hujan dan teduh. Pernahkah kau mendengar kisah mereka? Hujan dan teduh ditakdirkan bertemu, tetapi tidak bersama dalam perjalanan. Seperti itulah cinta kita.
Seperti menebak langit abu-abu.

Mungkin, jalan kita tidak bersimpangan....
-------------


Covernya yang cantik dan judulnya yang manis merupakan daya tarik awal yang kuat dari novel ini. Diambah lagi, novel ini merupakan juara pertama dari kompetisi 100 Roman Asli Indonesia yang diselenggarakan GagasMedia, semakin memperkuat daya pikatnya.

Sebelum membaca buku ini, aku sedikit mendengar review, kalau buku ini menceritakan tentang seorang perempuan yang mencintai sahabatnya, yang juga seorang perempuan. Jadi aku menebak-nebak jalan cerita novel ini, tentang seorang gadis yang berada dalam perjalanan untuk kembali ke jalan yang seharusnya ia lalui, tentang luka, tentang sebuah kesalahan.

Aku menyukai novel yang banyak memancing rasa penasaran, penceritaan dengan menggunakan alur maju-mundur yang rumit, bikin aku puas udah dirumitkan sekaligus senang karena udah bisa memecahkan teka-teki cerita rumit tersebut. Dan novel ini berhasil memancing rasa penasaranku.

Cerita dengan alur maju dan mundurnya dibedakan dengan mencetak miring bagian yang menjadi masa lalu. Dalam masa lalunya seorang gadis bernama Bintang Dewatra terjebak dalam cinta yang ‘tidak wajar‘ antara ia dan sahabatnya –Kaila- ketika keduanya sama-sama duduk di bangku SMA. Sementara dalam alur maju, Bintang tengah menjalani kehidupannya sebagai seorang mahasisiwi di Jakarta.

Cintailah laki-laki. Agar lo nggak perlu bersembunyi untuk mencintai seseorang”
Di Jakarta, ia memiliki seorang kekasih bernama Noval. Bersama Noval, ia menjalani kehidupan yang bebas layaknya remaja yang tak perduli norma.

Sayangnya, dari alur dan maju yang diceritakan dalam novel ini, tidak ada benang merah yang menyatukan kedua cerita yang berbeda ini. Aku pikir, akan ada penjelasan tentang mengapa semudah itu Bintang menghancurkan hidupnya dengan masuk kedalam pergaulan bebas, apakah kehidupan masa lalunya membuatnya tertekan, atau ia punya masalah kejiwaan, atau sebagainya.

Selain itu, meski tokoh Bintang yang dapet banyak sorotan, tapi penciptaan karakternya malah kurang, dan terkesan datar-datar aja, seperti nggak punya emosi, nggak marah pada keadaan, pada kehidupannya. Juga pada karakter-karakter tokoh lainnya, dan pada karakter Noval.


Noval kembali memfokuskan pandangannya pada perempuan di depannya yang masih asyik berceloteh. Ia sengaja mengajaknya untuk membuat Bintang kesal. Betapa menghancurkan hati seseorang itu bias indah sekali rasanya.

Ia digambarkan sebagai cowok posesif, cemburuan dan rada psikopat. Lalu diakhir ia begitu aja muncul seakan-akan sudah ‘berubah‘ dan berjanji tidak akan menyakiti Bintang lagi. Keanehan ini bikin ending cerita terkesan maksa, dan terburu-buru.


Dan, seperti komentar Kak Winna Efendi yang tercetak di cover depan novel ini, ceritanya memang mengalir apa adanya, gaya bahasa yang digunakan pun enak dibaca, dan bikin aku terus baca dengan hanya memakan waktu beberapa jam untuk menghabiskan seluruh isi cerita.

Komentar