[Review Novel] Let Go

Judul: Let Go
Penulis: Windhy Puspitadewi
Editor: Widyawati Oktavia
Proofreader: Gita Romadhona
Penata letak: Edwita Mirayana
Desain sampul: Mira Tazkia
Penerbit: Gagas Media
Tebal: 142+ viii hlm
Tahun Terbit: 2009
ISBN: 978-979-780-382-7

Kau tahu apa artinya kehilangan? Yakinlah, kau tak akan pernah benar-benar tahu sampai kau sendiri mengalaminya.

Raka tidak pernah peduli pendapat orang lain, selama ia merasa benar, dia akan melakukannya. Hingga, suatu hari, mau tidak mau, ia harus berteman dengan Nathan, Nadya, dan Sarah. Tiga orang dengan sifat berbeda, yang terpaksa bersama untuk mengurus mading sekolah.

Nathan, si pintar yang selalu bersikap sinis. Nadya, ketua kelas yang tak pernah meminta bantuan orang lain, dan Sarah, cewek pemalu yang membuat Raka selalu ingin membantunya.

Lagi-lagi, Raka terjebak dalam urusan orang lain, yang membuatnya belajar banyak tentang
sesuatu yang selama ini ia takuti, kehilangan.
------------

Let Go adalah buku kedua yang mengenalkanku pada GagasMedia, buku kedua terbitan GagasMedia yang membuat aku makin suka GagasMedia, dan hingga sekarang, jadi #GagasAddict.

“Tapi, rasanya sudah seperti seabad, Bu!” protesnya. “Satu ruangan dengan Zombie berlidah tajam, Ratu Salju, dan si cengeng penakut itu, entah kenapa bikin jarum jam terasa nggak bergerak ke mana pun” 

Novel ini nggak sama sekali membuatku bosan meski sudah berkali-kali aku baca ulang. Gaya penulisan Ka Windhy yang ringan tapi juga cerdas bikin novel ini ga sekedar novel teenlit yang isinya tentang cinta anak remaja. Buku ini banyak memberi pelajaran yang disampaikan dengan cara yang tidak menggurui, tentang persahabatan, memaafkan, juga kehilangan.

“Cewek-cewek tuh justru seneng sama muka-muka badak, tapi hati merpati kayak Raka gini.”

Kak Windhy juga menyelipkan lelucon-lelucon yang mengundang tawa dalam percakapan-percakapan yang dilontarkan tokoh ciptaannya, membuat novel ini penuh warna.

“Impian itu seperti sayap,“ lanjut Nadya. “Dia membawamu ke berbagai tempat. Kurasa mamamu sadar akan hal itu. Dia tahu, kalau dia mencegah mimpimu, itu sama saja memotong sayap burung. Burung tersebut memang nggak akan lari, tapi burung tanpa sayap sudah bukan burung lagi. Dan, manusia tanpa mimpi, sudah bukan manusia lagi.“

Pembaca [maksudnya sih aku] dibuat tertawa, terpesona dengan kalimat-kalimat yang quotable, kesal dengan tingkah tokoh yang kadang menyebalkan, dan menangis.

“Saya keberatan dengan kata-kata Bapak yang bilang kalau Caraka bodoh,“ tegas Nathan. “Apa Bapak sadar, Bapak adalah sorang guru dan Bapak mengatakan hal itu kepada murid Bapak?“

Ketika pertama kali baca buku ini, aku udah benar-benar dibuat terpesonaa, jatuh cinta... aku hampir ga nemuin typo dalam buku ini, apalagi kejanggalan-kejanggalan yang kadang suka aku temukan dinovel-novel yang aku baca, ga sedikitpun hal yang bikin aku protes.

“Ada-ada aja, sih? Gerutu Caraka tak habis pikir.  “Emang ada yang kayak gitu? Kenapa harus cantik biar ditolong? Nggak masuk akal! Dangkal banget!“

Tapi… pas kedua-ketiga dan berkali-kali aku baca lagi, aku baru nemuin typo [dikit sih] juga hal yang menurutku rasanya seperti misteri [huehehe lebay…]


“Ada beberapa hal yang harus dikatakan baru bisa dimengerti.“

Jadi.. sebenarnya Bu Ratna itu siapa? Apa bener dia cuma wali kelas Caraka DKK? Apa bener dia cuma pembina majalah sekolah? Aku rasa, ketika Bu Ratna bilang kalau Caraka bisa membuat keajaiban, justru Bu Ratna sendirilah yang merupakan keajaiban. Dia itu kesannya jadi seorang peri penyelamat untuk hidup Raka, Nathan, Nadya dan Sarah, menyelamatkan mereka agar tidak salah dalam mencari jati diri, dengan mempertemukan keempatnya.


Kalau kamu menyukai seseorang dengan sangat, tindakan kecil seperti ini sudah cukup mewakilinya.

Selain itu, dalam beberapa adegan, aku merasa Bu Ratna dan Mama Caraka mirip sekali, ya sikapnya yang sama-sama bijaksana, ya celetukan-celetukan yang dilontarkan pada Caraka. Apa jangan-jangan mereka sodara kembar? [imajinasinya mulai ngelantur]

Juga, aku kurang setuju [boleh kan???] dengan penggunaan istilah ‘lulus sekolah’ yang Kak Windhy pakai. Yah, mereka kan masih kelas X, aku rasa lebih pas kalau pakai ‘nggak naik kelas‘ aja, karena kalau lulus-lulusan, kesannya mereka mau ngehadepin UN dan bentar lagi mau lulus.

“Tapi waktu terus berjalan, Ka!“ teriak Nathan sambil berusaha melindungi kepalanya dari pukulan-pukulan Caraka. “Ayahmu sudah mati, tapi kamu masih hidup! Samai kapan kamu akan terikat dengan masa lalu?“

Tapi bagiku buku ini tetap juara!! Aku suka novel yang nggak sekedar menghibur, tapi pesan yang disampaikan juga dapet banget. Selain itu, cover novel cantik yang membungkus novel ini jadi nilai tambah untuk memikat hati pembaca.

Komentar