[Review Novel] Marriageable

Judul : Marriageable
Penerbit : Gagas Media
Editor : Windy Ariestanty
Proofreader : Mita M. Supardi
Penata Letak : Gita Ramayudha
Desainer Sampul : Dwi Annisa Anindhika
Halaman : 358+x hlm
ISBN : 978-979-780-651-4


Namaku Flory. Usia mendekati tiga puluh dua. Status? Tentu saja single! Karena itu Mamz memutuskan mencarikan Datuk Maringgi abad modern untukku.
"Kenapa, sih, gue jadi nggak normal cuma gara-gara gue belom kawin?!"
"Karena elo punya kantong rahim, Darling,” jawab Dina kalem. “Kantong rahim sama kayak susu Ultra. Mereka punya expired date."
"Yeah," sahutku sinis. "Sementara sperma kayak wine. Masih berlaku untuk jangka waktu yang lama."

Mamz pikir aku belum menikah karena nasibku yang buruk. Dan kalau beliau tidak segera bertindak, maka nasibku akan semakin memburuk. Tapi Mamz lupa bertanya apa alasanku hingga belum tergerak untuk melangkah ke arah sana.
Alasanku simple. Karena Mamz dan Papz bukan pasangan Huxtable. Mungkin jauh di dalam hatinya, mereka menyesali keputusannya untuk menikah. Atau paling tidak, menyesali pilihannya. Seperti Dina, sahabatku.
"Kenapa sih elo bisa kawin sama laki?!"
Dina tergelak mendengarnya. "Hormon, Darling! Kadang-kadang kerja hormon kayak telegram. Salah ketik waktu ngirim sinyal ke otak. Mestinya horny, dia ngetik cinta!"
See??
"Oh my God!" desah Kika ngeri. "Pernikahan adalah waktu yang terlalu lama untuk cinta!"
Yup!
That’s my reason, Darling!
------------------

Aku dapet buku Marriageable dari hadiah giveaway yang diadakan GagasMedia di akun twitternya (@GagasMedia) bulan agustus lalu. Beruntungnya, aku emang ngincer bukunya sejak tau kalo buku ini akan cetak ulang.

Buku ini diterbitkan pertama kali pada tahun 2006 ini mengisahkan tentang seorang wanita lajang –Flory- usia 32 tahun yang dihadapkan pada perjodohan yang diatur ibunya. Menurut Mamz -panggilan Flory untuk ibunya- usia 32 tahun sudah hampir kadaluarsa untuk seorang perempuan.

“Kenapa, sih, kalian senang banget menegaskan bahwa kami diciptakan dari tulang rusuk kalian?” semburku geram memotong ucapan Vadin. Gerry langsung menyeringai senang melihatku sewot. "Kalau kami memutuskan untuk mengirim kartu ucapan untuk kaum Adam sedunia, apa kalian mau berhenti mengungkit-ungkit tentang kedermawanan kalian sebagai donor tulang?“

Ia yang pernah patah hati karena diselingkuhi pacarnya jadi anti-cowo juga anti terhadap perjodohan ala Siti Nurbaya, tapi disisi lain ia juga takut kalo ini merupakan kesempatan terakhirnya

Mendengar Ara- salah satu sahabat Flo- mengumumkan ia akan menikah, Flo-pun memutuskan untuk menerima lamaran Vadin setelah hampir setahun mengenalnya.

"Percaya sama gue, elo nggak perlu ngebuktiin apa-apa sama Gilang atau Vadin atau lelaki manapun,“ hibur Dina sambil merangkul pundakku.“Yang elo butuh Cuma gaun DKNY, potongan rambut baru, dan segelas besar es krim. Lelaki selalu datang dan pergi, tapi fashion is forever“

Dan mulailah drama rumah tangga tanpa cinta Flo dan Vadin. Sebelum menikah, Flo membuat perjanjian untuk tidak melakukan hubungan suami-isteri untuk jangka waktu yang entah sampai kapan, dan Vadin tetap menyetujuinya.

Dasar laki! Tapi aku tersenyum senang membacanya. Huh, kenapa, sih, setiap lelak yang mulai merayu terlihat sangat menggemaskan? Kampret!
Masalah utama dalam pernikahan mereka pun muncul sejak kehadiran seorang wanita bertubuh dan wajah bak Barbie bernama Nadya, yang belakangan Flo ketahui, ia adalah mantan kekasih Vadin. Flo beberapa kali mendapati keduanya bertemu tanpa sepengetahuannya.

-ooOOoo-

Novel Karya Mba Riri Sardjono ini bener-bener WOW!! Aku suka sekali dengan dialog-dialog konyol-cerdas-blakblakan yang dilontarkan para tokoh ciptaan Mba Riri ini. Belum lagi karakter-karakter unik keempat sahabat Flo yaitu Dina, yang menganggap dirinya pakar dalam urusan lelaki; Kika, si feminis yang tidak percaya laki-laki; Ara,  yang masih percaya kekuatan cinta; dan Gerry, pria gay yang cukup bijak dalam menengahi pembicaran keempat sahabatnya.

“Darling, elo pikir kenapa profesi lo tumbuh subur? Ejek Kika sambil tergelak mencium pipi Vadin untuk berpamitan. “Kalau manusia bisa dipercaya kita nggak perlu pengacara.“

Mba Riri dapat ‚menyulap‘ tema pernikahan dalam novel ini menjadi sesuatu yang semakin menarik tanpa kehilangan pesan moral yang terkandung dalam novel ini. Ketakutan tidak mendapat pasangan untuk menikah hingga ketakutan untuk menikah.

Komentar