[Review Novel] Morning Light

Judul: Morning Light
Penulis: Windhy Puspitadewi
Editor: Samira
Proofreader: Christian Simamora, Gita Romadhona
Penata letak: Muluk
Desain sampul: Dwi Anissa Anindhika
Penerbit: Gagas Media
Tahun Terbit: 2010
ISBN: 978-979-780-433-6



Aku Seperti bunga matahari yang selalu mengejar sinar matahari, hanya melihat pada dia: matahariku.
Aku mengagumi kedalaman pikirannya, caranya memandang hidup-malah, aku mati-matian ingin seperti dirinya.

Aku begitu terpesona hingga tanpa sadar hanya mengejar bayang-bayang. Aku menghabiskan waktu dan tenaga untuk mendongak sampai lupa kemampuan diriku sendiri.
Aku bahkan mengabaikan suara lirih di dasar hatiku. Aku buta dan tuli. Dan di satu
titik akhirnya tersungkur. Saat itulah aku mulai bertanya-tanya: Apakahdengan menjadi seperti dia, aku pun akan dicintai?
----------------


Ketika membaca novel ini, aku masih dalam bayang-bayang ‘cinta’ terhadap Let Go [tsaaahh…]. Masih mengingat sosok Caraka, Nathan, Nadya dan Sarah. Dan ketika membaca novel berjudul Morning Light ini, aku merasa seperti membaca kisah mereka lagi dengan versi yang berbeda.

Bercerita tentang empat orang sahabat yang tengah dalam ‘perjalanan’ pencarian jati diri. Keempatnya dihadapkan pada persoalan yang terjadi dalam keluarga masing-masing, yang membuat mereka seperti bunga mata hari, menengadah kearah datangnya sinar matahari.

“Anda memang pelatihnya!” katanya. “Tapi, saya ayahnya! Dan sebagai anak dari seorang Ruslan Jayadi, penampilannya tadi sangat memalukan!”
Devon menghela napas, lalu tertunduk.

Devon, anak lelaki satu-satunya dari seorang pesepakbola terkenal. Sang ayah yang terlalu membebaninya dengan begitu banyak harapan membuat Devon tertekan, hidup dalam bayang-bayang sang ayah.

Gampang buat Mama bicara, katanya dalam hati. Karena bukan Mama yang menjadi anak seorang penulis terkenal. Bukan Mama yang dituntut untuk menghasilkan karya yang sama atau kalau bisa lebih bagus dari orangtuanya. Bukan Mama yang hidup dalam bayang-bayang Renata Adhyaswara.

Lalu ada Sophia yang merupakan anak seorang  penulis terkenal, Julian yang terobsesi untuk bisa melampaui ayah dan -terutama- kakaknya, serta Agnes yang hidup dalam bayang-bayang kakak perempuannya yang sudah meninggal.

“Sejak awal, tujuanku memang bukan menyamai,“ jelas Julian. „Tapi, melebihi dia.“

Mereka hidup dalam bayang-bayang orang-orang terdekat mereka, seolah-olah mereka harus bisa sepertinya, bahkan kalau perlu, bisa melebihi…

Dia bahkan merasa, setiap kali ada orang membicarakan kakaknya seakan-akan ada penyesalan kenapa tidak dia saja yang mati. Mungkin ini sebabnya mamanya terkesan selalu menghindarinya. Mungkin mamanya berpikir kenapa harus kakaknya yang cerdas dan bias mewujudkan harapan orangtuanya, dan bukan dia yang hanya bias tersenyum dan memasak.

--ooOOoo--

Aku pikir, hanya aku yang menganggap Morning Light ‘hampir mirip’ dengan Let Go, dari segi karakter-karakter tokohnya. Tapi setelah seorang temanku yang juga sudah membaca Let Go dia memberikan komentar yang sama denganku.

Bagiku itu bukan masalah, karena bagaimana pun juga, dari setiap buku yang kubaca, aku selalu berharap menemukan nilai moral yang bisa jadi pelajaran untukku. Dan dalam novel ini pesan yang disampaikan Kak Windhy dari buku ini dapet banget, tentang pencarian jati diri, dan mencintai diri sendiri tanpa berusaha untuk menjadi seperti orang lain.

“Jangan pernah, hanya dengan melihat, kamu menilai siapa yang lebih menderita dan siapa yang lebih bahagia.“


Dan lagi, Kak Windhy selalu menyuguhkan gaya bahasa yang ringan dan enak dibaca. Lelucon-lelucon khas yang diselipkan pada tiap percakapan tokoh pun membuat buku ini sesegar cover-nya yang bergambar bunga matahari dengan paduan warna kuning cerah dan pola-pola yang mengibaratkan cahaya sinar matahari.

Oh iya, ada satu hal yang menurutku jadi berlebihan dari buku ini, tentang mamanya Sophia.

Sophie manggut-manggut. Mamanya, Renata Adhyaswara, memang seorang penulis terkenal hingga punya kolom sendiri di beberapa surat kabar nasional dan majalah dengan oplah besar. Mamanya juga telah menghasilkan ratusan novel bermutu dan memenangi banyak penghargaan baik di tingkat nasional maupun internasional.

Aku pikir, dengan menyebutkan karya mama Sophia yang berjumlah 'puluhan' sudah cukup mewakili prestasinya didunia menulis. kalau ratusan novel begitu jadi terkesan lebay, hehe... 

Komentar