[Review] The Coffee Memory

Manis-Pahit Secangkir Kopi


Judul: The Coffee Memory
Penulis: Riawani Elyta
Editor: Laurensia Nita
Desain sampul: Satriod’Labusiam
Pemeriksa Aksara: Intan Ren & Septi Ws
Penata Aksara: BASBAR_Binangkit
Penerbit: Bentang/ PustakaPOPULER
Tebal: 224+ v hlm
Tahun Terbit: 2013
ISBN : 978-602-7888-20-3


Saat aroma kopi itu menjauh,
kusadari bahwa kau
tak mungkin kutemui lagi.
Seperti aromamu yang terempas
oleh butir udara,
meninggalkanku dalam sunyi
yang dingin.


Sampai kusadari kau hadir,
menyergapku dalam diam,
mengembalikanku dalam kenangan.
Dan, menabur aroma yang sama
dengan apa yang telah kutinggalkan.
Ketika itulah aku pahami,
aku tak mungkin berpaling lagi.
--------------

Apa yang kamu rasakan ketika seseorang yang berharga dalam hidupmu pergi untuk selamanya? Mampukah kamu bertahan? Mampukah kamu melanjutkan hidupmu tanpanya? Bagaimana kamu menjalaninya?

Bagi seorang wanita, kehilangan lelaki yang menjadi imamnya bagaikan mimpi buruk, terlebih dia adalah orang yang begitu dicintai, lelaki yang menjadi idaman setiap wanita sebagai sosok suami.
Sebuah kecelakaan lalu lintas telah merenggut nyawa Andro, suami Dania. Ditengah usaha keduanya dalam membangun impian, Andro pergi lebih dulu meninggalkan Dania, anaknya bernama Sultan, dan Katjoe Manis -sebuah kafe yang telah mereka rintis bertahun-tahun.-

Andro merupakan pecinta kopi, dan memiliki kafe yang mengutamakan cita rasa kopi untuk disajikan kepada penikmat-penikmatnya merupakan impiannya. Selama bertahun-tahun, Andro belajar menjadi seorang barista yang andal. Dan bagi Dania, Andro memang barista terhandal yang dikenalnya. Ia selalu dibuat terkagum-kagum setiap kali Andro menunjukan keahliannya terutama dalam melakukan latte art.


Lalu, setelah kepergian Andro, Dania harus tetap berusaha melanjutkan bisnis kafenya, bukan hanya itu merupakan sumber mata pencahariannya, melainkan demi Andro, demi impiannya.


Kepergian orang yang kita cintai ternyata tidak cukup menjadi excuse untuk berhenti memutar roda hidup, bukan?

Namun, semua yang dilalui Dania untuk mempertahankan usaha kafenya tidaklah mudah. Berbagai cobaan datang mulai dari berhentinya beberapa pegawai dan barista kepercayaannya, seorang lelaki yang merupakan kerabat suaminya hingga seseorang lelaki dari masa lalunya. Cobaan yang datang silih berganti itu kerap menyurutkan semangat dan keperayaan diri Dania untuk tetap menjalankan Katjoe Manis.
--ooOOoo--

The Coffee Memory adalah novel karya Mba Riawani Elyta yang aku baca. Aku bisa menangkap banyak hikmah dari novel ini. Contohnya saja dari penggambaran karakter Andro, aku merasa Mba Riawani Elyta menyampaikan pesan tentang kekuatan silaturahmi sebagaimana yang Andro lakukan terhadap teman-teman komunitas pecinta kopinya.

Bagiku, hanya ada satu nama dalam masa yang telah kutinggalkan dan layak kuabadikan. Andro.

Selain itu, bagaimana seorang wanita yang bertahan setelah kehilangan suaminya dengan tetap menjaga harga diri sebagai seorang perempuan yang berstatus janda, dan melalui masa-masa terpuruk sebagaimana kebanyakan perempuan yang ditinggal pendamping hidupnya, gambaran nyata pada kebanyakan wanita.

Oh ya, selain itu di tiap pembuka bab, selalu disertai dengan trivia menarik yang masih berkaitan dengan cerita yang disajikan babt tersebut, isi trivianya mulai dari pengetahuan-pengetahuan menarik seputar kopi, tips membuat kopi, juga kalimat-kalimat quotable yang tentu berkaitan dengan isi cerita di bab tersebut dan berunsur kopi.

Andai saja membuka hati sama gampangnya dengan membuka tutup kaleng krimer

Meski begitu, aku tetap merasa ada bagian yang kurang dalam novel ini. Yah, aku mengharapkan Mba Ria sedikit mengeksplor cerita tentang Dania dan Sultan, anaknya. Rasanya jadi aneh saja karena Dania jadi terlalu terfokus pada Katjoe Manis dari pada meluangkan waktu untuk anaknya. Meski tanpa dijelaskan pun pembaca sudah dibuat mengerti kalau Sultan ditemani neneknya, tapi aku rasa akan lebih ideal jika Dania yang memang begitu menyayangi anaknya tetap ‘tergambarkan’ meluangkan waktu untuk anaknya, atau bisa juga Sultan yang mendatang Katjoe Manis. Selain itu, aku juga tidak merasakan luapan emosi seorang anak laki-laki yang kehilangan ayahnya.


Dan secara keseluruhan, novel ini sangat menarik dengan cover yang menarik pula, satu cover yang seolah menggambarkan bungkusan berwarna kertas kopi lalu didalamnya ada cover dengan gambar butiran-butiran kopi. Aku juga jadi mulai meraba ketertarikanku terhadap kopi, yah meski yang sering kuminum adalah capucino instan.

Komentar