[Review Novel] Perjalanan Hati

Judul: Perjalanan Hati
Penulis: Riawani Elyta
Editor: Dewi Fita
Proofreader: Dewi Fita
Penata letak: Erina Puspitasari
Desain sampul: Dwi Annisa Anindhika
Penerbit: Rak Buku
Tebal: 194+ iv hlm
Tahun Terbit: 2013
ISBN : 978-602-175-596-9

Suara dari masa lalu itu masih berembus kencang.
Menyergapku dalam rindu yang dingin.
Ia bercerita tentang sebuah rasa yang terus tumbuh dan terpelihara.
Jika tidak pada tempatnya, maka ia tak ubahnya ilalang kering.
Kusadari, bayang-bayangmu tak hadirkan rasa benci,
tetapi rindu yang perlahan-lahan berembus

Ini cerita tentang aku

Aku yang menapaktilasi masa lalu,
mencoba mencari rasa yang terserak untuk menetapkan hati

Aku yang berjalan mengitari hatinya,
mencoba mencari getaran itu kembali
Ketika semua terasa hampa, apakah kau masih mau berdiri di sana....
Menungguku pulang dan memelukku erat
-----------------

Perjalanan Hati adalah novel kedua karya Mba Riawani Elyta yang aku baca, –tapi belum di-review.- Dalam novel ini aku mendapati untaian-untaian kata yang indah, dihiasi dengan diksi-diksi yang puitis, begitu dalam dan memukau, tapi tidak mengawang-ngawang. Pemaparannya terhadap setting cerita terkesan nyata dalam imajinasi, pun gaya bahasa yang digunakannya, mengalir dan ringan.
Semburat oranye baru saja mewarnai langit. Menganggalkan selimut malam yang telah menggelung rapi di horizon cakrawala. Gerak angin
berembus semilir. Sinar matahari baru menampakkan seperempat biasnya.
Semasa menjalani kehidupan perkuliahannya, Maira memilih kegiatan pecinta alam sebagai passionnya. Ia aktif dalam berbagai kegiatan seperti gathering, pelatihan tingkat lanjutan hingga pendakian.

Namun, segala kegiatan itu ditinggalkannya ketika ia menikah dengan Yudha, seseorang yang juga memiliki passion yang sama dengannya. Awalnya, meski terlibat dalam beberapa momen pendakian yang sama, mereka tak penah berada dalam lingkaran pertemanan yang sama.

Terkadang, cara kerja takdir memang unik dan baru dipahami manusia saat peristiwa itu telah berlalu

Dan begitulah keajaiban takdir yang menghampiri Maira, kenyataan bahwa seseorang yang belum begitu lama dikenalnya adalah jodohnya, menepis takdir lain tentang seseorang yang telah lama mengisi hati dan hari-harinya.

Namun, ditengah perjalanan rumah tangga keduanya, orang-orang dari masa lalu datang dan mengusik hati hingga dilanda keraguan dan kegamangan.

--ooOOoo--

Dalam bab awal, pembaca sudah dibuat penasaran dengan konflik yang diangkat dalam novel ini. Sangat bagus untuk mengikat pembaca yang mudah terpancing rasa penasaran [ini sih aku banget] agar tetap menyelesaikan bacaannya sampai akhir.

Mba Riawani memfokuskan cerita pada konflik yang diusung, serta pergolakan batin tokoh-tokohnya. bagaimana sebuah proses ‘memaafkan‘ terjadi meski dilalui dengan proses yang rumit, ditambah lagi orang-orang dari masa lalu datang dan berusaha mengambil posisi yang dirasa miliknya.

Tetap saja kita tak mampu melarang, perasaan yang pernah ada ini terus tumbuh dan terpelihara. Sesuatu yang justru jauh lebih mengancam.
Tak ada pemeran antagonis disini, tapi Mba Riawani menghadirkan sebuah cerita dengan ‘keadaan‘ sebagai sosok antagonisnya.
 
gunung anak Krakatau dengan muntahan debu vulkanik
Dalam novel ini, terdapat pesan moral yang disampaikan Mba Riawani mengenai kehidupan rumah tangga, dengan cara yang tidak terkesan menggurui. Selain itu, latar perjalanan ke Gunung anak Krakatau membuat pesan yang disampaikan lebih nyata karena menggunakan keindahan dan kekayaan ‘alam‘ sebagai perumpamaan. Seperti dalam menghadapi hidup pembaca dibuat berkaca pada apa yang disajikan alam.

Rintangan ada untuk kita hadapi dan taklukkan, bukan untuk dihindari apalagi sampai mencari pelampiasan jika merasa tak sanggup untuk mnghadapinya. 

Kalau berbicara tentang kekurangan dalam buku ini, aku rasa yang kutemukan hanya kekurangan pada jumlah halaman, hehehe. dan karena sedikitnya halaman ini, pergolakan batin para tokohnya jadi kurang jleb gitu.

Oh ya, aku jadi teringat pertemuanku dengan Teh Ifa Avianty bulan juni lalu. Dalam obrolan yang kami isi disela-sela kemacetan jalan kota Jakarta, Teh Ifa mereferensikan karya-karyanya Mba Riawani Elyta padaku, dan benar... tulisannya memang bagus.

Terus berkarya Mba Riawani Elyta

 -------------------

Resensi diikutsertakan dalam Lomba Quote dan Resensi Novel Perjalanan Hati

Komentar

  1. terima kasih ya untuk reviewnya :) Sebelumnya udah baca novel saya yg mana? :)

    BalasHapus
  2. pic anak gunung krakataunya kereeen *salahfokus

    BalasHapus
  3. yg judulnya the coffee memory Mba Ria

    hehehe.. itu hasil comot di mbah google Mba Sarah :p

    BalasHapus

Posting Komentar