[Review Novel] Yang Kedua


Judul: Yang Kedua
Penulis: Riawani Elyta
Editor: Widyawati Oktavia
Proof reader: Dewi Fita
Desain sampul: Danish
Penata letak: Gigitz
Penerbit: Bukune
Tebal: 243+ iv hlm
Tahun Terbit: 2013
ISBN : 978-602-220-040-6

Kau bagai lagu indah, yang membuatku jatuh cinta dalam cara yang sederhana. Menyusup cepat ke dalam dada, mengentakkan hati, lalu mengisi penuh ruang kosong jiwa. Kaulah lirik yang selalu bisa kugumamkan berulang-ulang dalam benakku, tanpa jemu.
Kau tahu, ketika aku menyerahkan hatiku—telah kuserahkan seluruhnya. Namun, mengapa kita tak bisa sekadar saling tatap. Mengapa kita tak bisa teriakkan bahwa cinta yang kita rasa membuat bahagia dalam diri luruh hingga ke ujung-ujung jari yang menghangat.

Tak ada yang salah dengan cinta antara kau dan aku.
Mungkin, yang salah hanyalah waktu. Kau dan aku, seharusnya sejak dulu bertemu…

------------
Dalam dua minggu, aku menghabiskan tiga buah karya Mba Riawani Elyta. Dua karyanya yang telah lebih
dulu aku baca berjudul Perjalanan Hati dan The Coffee Memory.
Novel karya Mba Riawani ini pun masih bergenre domestik drama. Berkisah tentang seorang wanita bernama Vienna Ariestanty yang tetap berusaha mempertahankan pernikahannya yang sudah berusia lima tahun dengan Harris.

Sebagai wanita, Vienna merasa tidak sempurna. Di usianya yang masih belia, ia divonis infeksi rahim yang mengharuskannya menjalani oprasi pengangkatan rahim.

Operasi pengangkatan itu tak hanya menyedot biaya yang semestinya dialokasikan untuk kuliahnya, tapi juga mengisap habis rasa percaya dirinya.

Ditengah ketakutannya akan pikiran tentang tidak adanya lelaki yang mau menikahinya karena kondisi tersebut, Haris beserta keluarganya datang melamar Vienna dan menerima ‘kekurangannya.’

Tetap saja itu hanyalah sebuah ucapan kosong. Sering kali, setiap keduanya bertengkar Haris akan mengungkit-ungkit tentang ‘kekurangannya’ itu.

Mereka menjalani kehidupan yang sederhana di Batam. Lalu, berawal dari festival vokal yang diikutinya, mengantarkannya pada kehidupan yang baru, yang serba berkecukupan –bahkan mewah-, dikelilingi popularitas... juga bertemu seseorang dari masa lalu bernama Dave, seseorang yang hanya selintas muncul di masa lalunya, tapi menetap lama dalam kehidupan di masa depannya.

--ooOOoo--

Aku agak kesal dengan tokoh Vienna, kenapa dia nggak pergi aja ninggalin Haris yang jelas-jelas cuma bisa menyakiti hatinya. Lebih baik gak memiliki pendamping hidup dari pada punya, tapi hanya jadi benalu dalam hidupnya.

Yah, memang dalam novel ini, Vienna digambarkan sebagai seorang perempuan pendiam, sabar dan berbagai kriteria wanita baik-baik yang taat beragama. Tentu ia tahu kalau perceraian adalah hal yang meski tidak diharamkan, tapi dibenci Allah. Aku berkesimpulan dia mempertahankan pernikahannya karena itu.

Di novel ini, Mba Riawani terlalu panjang mendeskripsikan, baik untuk cerita ataupun tempat yang membuat aku agak bosan dan pada beberapa halaman aku melompati banyak narasi yang terlalu panjang.

Komentar