[Review Novel] After Rain

Judul: After Rain
Penulis: Anggun Prameswari
Editor: Ayuning
Proofreader: Jia Effendie
Penata letak: Landi A. Handwiko
Desain dan Ilustrasi sampul: Levina Lesmana
Penerbit: Gagas Media
Tebal: 323+ vii hlm
Tahun Terbit: 2013

ISBN: 978-979-780-659-0

Mungkin aku dibutakan oleh cinta,
sebab akalku dikacaukan olehmu.
Seberapa banyak pun aku meminta,
kau takkan memilihku. 

Ini yang kau sebut cinta?
Menunggumu bukan pilihan.
Izinkan aku meninggalkanmu, dengan serpihan hati yang tersisa.
Dan jika ternyata dia yang ada di sana, sama-sama menanggung keping-keping hati yang berhamburan, saat kami saling menyembuhkan—salahkah itu?

----------------------


Aku ngga bisa bayangin sakitnya menjalani hubungan yang ‘jalan ditempat’ selama 10 tahun. Dan ngebayangin ada seorang Serenade Senja -dikehidupan nyata- yang bertahan dalam hubungan seperti itu bikin aku nggak habis pikir, baca novel ini bener-bener bikin aku sesak nafas.

Bener-bener salut euy sama Kak Anggun yang sukses bikin hati pembaca novelnya (ß read: aku) teraduk-aduk.

Aku belum lama baca dua novel yang mengangkat isu perselingkuhan tapi dengan dua sudut pandang yang berbeda. Satu sudut pandang tokoh utama yang jadi korban perselingkuhan, dan satunya lagi dengan tokoh utama yang jadi tersangka perselingkuhan (ß ini kok serem banget yah bahasanya)

Dalam novel berjudul cantik ini, Serenade Senja si tokoh utama adalah ter*ang*a perselingkuhan, orang ketiga dalam pernikahan Bara dan Anggi. Kalau aku cuma kasih tahu sebatas itu, pasti respon orang-orang adalah menyalahkan Seren, siapapun yang jadi orang ketiga adalah penjahatnya, antagonisnya.

Tapi, seperti yang aku bilang sebelumnya, Seren sudah menjalani hubungan selama 10 tahun, plus tiga tahun pasca Bara-Anggi menikah.

Bisa bayangin pacaran tujuh tahun yang berakhir pada menghadiri pernikahan pacar? Lalu masih berhubungan (garis miring) pacaran sama si pacar yang kemarin nikah sama cewek karena dijodohin? Dan terus berlanjut selama tiga tahun, lalu bayangin apa yang terjadi dalam tiga tahun pernikahan si pacar yang tentu aja udah punya anak yang usianya kurang dari tiga tahun, alias masih unyu-unyunya? (lalu emosi, kipas-kipasin hati yang mulai kegerahan)

Kalau dipikir-pikir secara logika (duilee gaya bener) pacaran sepuluh tahun dengan tetep mau jadi simpenan sang pacar, itu kok kesannya naif banget yah, ditambah mengatas-namakan cinta pula. Yah, aku kurang setuju aja gitu kalau pake ‘sepuluh tahun’ pacaran, kesannya berlebihan. Ditambah lagi kehadiran orang baru yang dalam beberapa waktu bisa mengalihkan perasaan Seren, masa iya semudah itu? Melihat bagaimana Seren tetep mempertahankan hubungannya sama Bara meski dia rela-rela aja jadi orang ketiga. Ini bukan karena aku mencoba mencari kesalahan dalam novel loh yah, secara ini novel udah memikat baget, mungkin kalau dipikir-pikir ini adalah sebentuk efek galau yang ditimbukan novel. Meskipun berakhir dengan bahagia, tapi sebagai cewek aku jadi sensitive banget sama hubungan yang kayak Seren-Bara.


Yah, tiap kali aku baca ulang, antara hal-hal yang bikin aku nggak setuju (Ini kok belagu banget yah aku? Kayak yang akunya siapaaa gitu. Hehehe, maklum lah ya pembaca rewel) dengan bagaimana Ka Anggun menyajikan novel debutnya ini memang bikin pergolakan batin (hadeuh bahasanya makin lebay aje). Aku sampe mikir-mikir, mungkin kalau nggak gitu, bakal kurang juga yah ‘jleb-nya’ karena aku juga sampe-sampe ngebayangin dalam versi tokoh-tokohnya adalah aku dan si dia (duileee) bagaimana sakitnya pacaran sepuluh bertahun-tahun dan pada akhirnya ditinggal, pada akhirnya kenyataan berbicara lain, pada akhirnya si dia memang bukanlah jodoh (nangis dipojokan)

Pakoknya, novel ini best banget deh. Dengan judul yang memang udah memikat banget, meski –menurut aku- kovernya yang kurang memikat, meski ngga bisa dibilang jelek.


Aku rekomendasikan novel ini untuk kalian-kalian yang suka baca novel yang bikin hati kalian keaduk-aduk, keiris-iris, kepanggang (jadi barbecue) yang bikin emosi kalian terpancing, yang suka novel berlabel ‘bikin galau’ plus aku saranin untuk berdo’a setelah membacanya, berdo’a semoga nggak mengalami kisah cinta yang complicated kayak yang Seren alami, yang meskipun pada akhirnya bisa nemuin MR. Right-nya setelah sepuluh tahun.

Komentar

  1. aku sukaaaa buku ini, nggak bisa bayangin juga kalo jadi Serenade, sudut panjang yang selalu disalahkan, nyatanya nggak setiap 'posisi' gampang untuk dijalani

    BalasHapus

Posting Komentar