[Review Novel] Metropolis

Judul: Metropolis
Penulis: Windry Ramadhina
Editor: Mira R., Anin P., Fanti G.
Desain Kover: Sapta P Soemowidjoko & Ivana PD
Ilustrator: Dyndha Hanjani P
Penata Isi: Yusup Pramono
Penerbit: Grasindo
Tebal: 354+ vi hlm
Tahun Terbit: 2013
ISBN: 978-602-251-287-5
Setiap kota punya sisi gelap dan di sana mereka--mafia--berpesta.

Bram, polisi muda yang cerdas, anak seorang pecandu yang mati dibunuh pengedar.Miaa, perempuan misterius yang tidak pernah memiliki ayah. Johan, lelaki yang lahir di kalangan mafia dan punya banyak piutang nyawa. Indira, perempuan berhati bersih, orang yang salah di tempat yang salah.

Keempatnya tenggelam dalam kegelapan metropolis, di tengah-tengah konflik antargeng pengedar narkotika Jakarta. Tetapi, mereka tidak hitam, bukan pula putih sepenuhnya. Mereka manusia biasa yang punya ambisi, memendam niat buruk, melakukan kesalahan, serta merasakan benci dan cinta.
----------------

Sejak diundang dalam London Tea Party, berdiskusi tentang novel London, tentang Gilang, Goldilocks, dan Ning, juga Ayu, aku mulai diperkenalkan pada Metropolis. Tak banyak cerita yang aku dapat dari Mba Windry karena kami memang membahas tentang London. Tapi dari pembicaraan singkat seputar cetak ulangnya novel ini dan cerita singkat bagaimana perjuangan Mba Windry mengumpukan data demi novel ini, aku dibuat penasaran, maka aku berharap novel ini segera selesai dicetak ulang.
Meski sangat penasaran, aku berusaha menghindari info-info seputar Metropolis yang nggak henti-hentinya Mba Windry pamerkan di akun twitternya. Dan sebelum novel bersampul gelap itu berada dalam genggaman, yang aku tahu tentang Metropolis hanya mafia narkoba, seorang polisi bernama Bram, lalu tiga tokoh lainnya yang terus disebut-sebut, Johan, Miaa dan Indira.

Aku berniat menikmati novel ini dengan dimulai dari ketidak-tahuan apapun tentang novel ini selain yang memang sudah aku ketahui. Dan saat –akhirnya- membacanya, yang aku lakukan hanya menuruti rasa penasaranku yang hanya bisa dipuaskan dengan segera menghabisi lembar demi lembar Metropolis.

Novel ini cukup membingungkan dengan siapa yang jadi antagonis dan siapa protagonisnya, aku cukup bingung ketika pikiranku meminta untuk memihak pada siapa lalu memusuhi siapa dan ternyata –aku rasa- seperti apa yang ditampilkan dalam blurb-nya, tak ada yang benar-benar putih, karena mereka –para tokoh itu- memiliki alasan mengapa mereka berada disana.

Dan berhubung aku adalah pembaca novel-novel roman, aku tentu mempertanyakan adakah kisah cinta dalam novel ini, meski tentu tidak berharap banyak. Dan, yah, nyatanya kisah cinta yang disajikan dalam porsi yang sangat kecil ini –bagiku- sungguh luar biasa. Membekas di hati pembaca melankolis sepertiku.

Lalu ada bagian dimana –apalagi menurutku dalam setiap kisah yang gelap seperti novel ini- harus ada yang pergi, dan sialnya, ada dua yang harus dibuat ‘pergi’. Aku menyayangkan, karena keduanya adalah –termasuk- tokoh favoritku –dengan semua tokoh abuabu adalah favoritku- meski aku menyadari dengan kedua tokoh yang dibuat ‘pergi’ itu, cerita akan semakin meninggalkan kesan pembaca dan aku setuju sekali. Selain itu, hal itu menjadi alasan kedua kenapa novel ini begitu membekas dihati.

Sepertinya aku sudah terlalu banayk cerita. Tapi sungguh, sebanyak apapun yang aku ceritakan nggak akan sepuas membaca novel ini langsung.


5 of 5 stars for this novel.

Komentar