[Review Novel] Simply Love

Judul: Simply Love
Penulis: If Avianty
Penyunting: Beby Haryanti Dewi dan  Miranda Harlan
Penyelaras Aksara: Nurhadiansyah dan Nunung Wiyati
Penata Aksara: Aliaa Fazrillah
Desain sampul: ig Grafix
Penerbit: Noura Books
Tebal: 208+ v hlm
Tahun Terbit: 2012
ISBN: 978-602-9498-33-2


Hanya cinta yang bisa membuat semua keajaiban jadi nyata
Jika bahagia berarti terkekang, haruskah aku bertahan dalam kepura-puraan?
Jika mengejar karier berarti menentangmu, haruskah aku pasrah dan melupakan impian?
Sungguh... aku rindu senyum tulusmu, tatapan lembutmu saat cinta terasa begitu indah dan sederhana
Aku rindu langkah pertama kita saat memasuki gerbang pernikahan saat kau sematkan cincin itu di jariku

When everything was simply... love
------------------------------------------------

Harusnya, novel ini berjudul (un)simply love. Begitulah tanggapanku ketika mencapai halaman tengah novel. Ketika masalah rumah tangga Keke dan Win sedang gereget-geregetnya.

Salahnya juga sih, dari awal pembukaannya, aku udah berasumsi yang nggak-nggak dulu. Yah, namanya juga novel yang bergenre domestic drama, apa lagi kalau bukan permasalahan ngjelimet ala-ala hubungan rumah tangga, such as perselingkuhan (setelah yang kesekiannya aku membaca novel yang menyinggung isu perselingkuhan) kejenuhan terhadap pasangan (so tau banget yah aku?) atau ekonomi, dan atau-atau lainnya.

Ditengah-tengah halaman, aku udah kesel banget nih sama si Wim, tipe cowok yang bakal banget aku hindari untuk jadi suami (eh tapi boong deng :p!! ).

Bagaimana aku sang pembaca nggak dongkol? Membaca aksi si Wim yang menguasai banget istrinya –Keke- bahkan sampai urusan potong rambut sekalipun. Padahal Keke udah berubah dari dia yang waktu masih jaman kuliah manja banget -sampe nyuci baju aja nggak bisa- berubah jadi istri yang segala bisa.

Konflik yang diangkat-pun jelas dan lempeng-lempeng aja. Padahal, aku udah nebak-nebak bakal ada konflik yang lumayan bikin aku emosi karena munculnya orang dari masa lalu Wim. Nyatanya, dia cuma nongol bentar dan nggak memberi guncangan apa-apa.

Tapi yah, seiring menipisnya lembar-lembar halaman, aku dibuat kagum dengan sosok rekaan Teh Ifa ini, dua pasangan yang dalam kehidupan nyata jadi idaman semua orang. Dan aku berharap bisa kayak Keke, yang meski sekarang kadang masih kekanakan :p

Bener deh yah, pesan moralnya dapet banget. Meski ada satu hal yang bikin aku janggal, yaitu cara Keke yang nggak manggil suaminya dengan embel-embel Mas, atau Abang, atau Aa, padahal jelas-jelas diawal udah disebutin kalo Wim dan Keke adalah senior-junior di kampus, si Keke yang mahasiswa baud an Wim yang udah mau skripsi. Jelas kan kalo mereka beda usia.


Yah, novel ini memang simple banget, sesimpel judulnya dengan cita rasa manis (semanis aku yang baca-nya :p)

Komentar

Posting Komentar