[Review] Lost

Judul: Lost
Penulis: Eve Shi
Editor: Alit Tisna Palupi
Proofreader: Jumali Ariadinata
Penata letak: Gita Ramayudha
Desain sampul: Jumanta
Penerbit: Gagas Media
Tebal: 309+ v hlm
Tahun Terbit: 2014
ISBN: 978-979-780-698-9

Ia menggulingkan badan menghadap dinding, dan tempat tidur berderit.

Maura mengucek mata. Tempat tidur ini dibawa dari apartemen lama dan sudah tidak baru. Tapi pasti belum reyot sampai berbunyi tiap kali ia bergerak. Maura mulai menegakkan badan untuk memerika kerangka tempat tidur, lalu terkesima.

Di ujung tempat tidur duduk seorang perempuan berambut panjang, memunggungi Maura...
-----------------

Lost adalah karya kedua Mba Eve Shi yang masih bertemakan horror dengan tokoh-tokor remaja. Adalah Maura, murid SMA yang baru pindah ke apartemen Iluste Casa bersama kakaknya menempati unit 603. Setiap lantai terdapat tiga kamar, tetangganya dari kamar 602 adalah seorang wanita yang ramah dan periang bernama Nila.

Sejak pindah ke apartemen baru, Maura sering merasakan hal-hal yang ganjil. Iapun mulai mencari tahu tentang apartemen itu dari orang-orang yang sudah tinggal lebih lama darinya. Selain itu, dia juga mulai mencari tahu tentang penghuni unit 603 sebelumnya.

Sementara itu, tak lama setelah Maura menempati unit 603, datang seorang lelaki yang menempati unit 601. Sejak lelaki bernama Julian itu membantunya bersembunyi ketika Maura tak sengaja memasuki ‘tatar’ lain, keduanya mulai dekat dan berbagi cerita tentang kejadian-kejadian ganjil yang mereka alami.

=ooOOoo=

Novel dengan genre apapun, akan lebih seru kalau terselip romance yah ? :p.
Di novel kedua Mba Eve Shi ini, porsi cintanya pas. Gemes sama pasangan Maura dan Julian. Sayangnya, di novel ini, porsi adegan menegangkannya kurang dibandingkan novel pertama.

Ceritanya pun banyak bertele-tele mengenai kisah yang nggak berkaitan dengan inti cerita. Selain itu, tentang si mantan Maura yang terus mendekatinya juga kurasa terlalu berlebihan.

Di tiap adegan nama Adri -si mantan nekat- selalu dikaitkan. Mengingat Maura sudah tak ada perasaan apapun lagi padanya, agaknya jadi berlebihan kalau sedikit-sedikit nama Adri disebut, seperti ketika seharian Maura mengalami hal yang melelahkan, pasti disebut ‘untung ia tidak bertemu Adri‘ atau ketika disekolah ‘semoga ia tidak bertemu Adri.‘ Terlalu sering menyebutkan nama Adri jadi berkesan kalau Maura terlalu ge-er mantannya itu akan terus-terus mengejarnya dan muncul dihadapannya.
Seperti novel pertamanya, novel ini juga memiliki bahasa yang enak dibaca. Sering kali MbaEve Shi menyebutkan kata-kata unik seperti ‘jomplang‘ dan ‘gebuk‘ yang dituturkn oleh para tokoh, membuat novel ini terasa remajanya, karena anak-anak remaja memang tidak memakai bahasa yang baku ketika berbicara dengan teman-temannya.


Nampaknya, Mba Eve Shi memang piawai membuat ending-ending yang mengejutkan dan tidak terduga. Sehingga aku bisa menarik kesimpulan tersendiri maksud dibalik judul novel ini. 

Komentar