[Review Novel] (Bukan) Salah Waktu

Judul: (Bukan) Salah Waktu
Penulis: Nastiti Denny
Penyunting: Fitria Sis Nariswari
Penyelaras aksara: Intari Dyah P. & Septi Ws
Penata aksara: Endah Aditya
Perancang sampul: Citra Yoona
Ilustrasi sampul: Shutterstock & Dreamstime
Penerbit: Bentang
Tebal: 244 hlm      
Tahun Terbit: 2013
ISBN: 978-602-7888-94-4
---------------------------------
“Cinta terkadang memang sesederhana memaafkan masa lalu“
Novel ini termasuk kedalam naskah pilihan dalam ajang lomba novel bertema “Wanita Dalam Cerita“ yang diselenggarakan penerbit Bentang Pustaka. Sesuai dengan tema yang diusung, novel ini menghadirkan wanita-wanita berkarakter dengan kisahnya masing-masing, seperti mama Sekar, Rosa, Mbok Ijah dan tokoh wanita lainnya.
Sekar adalah wanita karir yang rela meninggalkan pekerjaannya untuk membuka lembaran baru bersama lelaki yang sudah menikahinya selama dua tahun.
pict from here
Namun keinginannya untuk fokus pada kebahagiaan keluarganya tak berjalan lancar. Masalah-masalah yang disebabkan kisah masa lalu bermunculan silih berganti seolah ‘meminta‘ diselesaikan. Keduanya diam-diam menyimpan rahasia, dan hal itulah justru yang menjadi bumerang dalam rumah tangga mereka.
--ooOOoo--
Dengan deskripsi yang detil dan gaya bahasa yang enak dibaca, alur ceritanya jadi mengalir dan dinamis. Namun, terkadang deskripsi yang terlalu panjang dan bertele-tele dengan menceritakan berbagai hal yang menurutku tidak begitu penting, membuat aku sebagai pembaca cukup bosan, meski tetap saja tanpa sadar aku terus membacanya karena gaya bahasa yang enak dibaca seperti kataku tadi J

Selain deskripsi panjang, ada juga beberapa tokoh yang memberi kesan ‘bawel.‘ Seperti tokoh Pak Umar dan Marni. Setiap kali adegan beralih pada mereka, dalam percakapan mereka berbicara terlalu banyak dan –lagi- bertele-tele dengan menceritakan susuatu yang ‘lebih‘ dari yang ditanyakan. Ditanya kamu siapa, Pak Umar malah sampe cerita kalau dia punya cucu yang seumuran dengan Wira dan blablabla.
pict from here
Ada ketidaksesuaian dalam cerita ini, seperti mengenai pekerjaan ayah Prabu yang diawal cerita (hal.13) dikatakan bahwa pekerjaannya sebagai direktur di sebuah perusahaan minyak, namun ditengah-tengah (hal.108) dikatakan kalau ayahnya bekerja di badan pertahanan. Juga ada beberapa typo yang bertebaran dalam novel ini.
Cukup heran ketika Sekar menerima keberadaan Wira -anak dari Prabu dengan wanita lain- dengan mudahnya, hanya karena sebelumnya keduanya pernah bertemu secara tak sengaja. Anehnya, pertemuan mereka hanya sekilas dan terkesan tidak meninggalkan bekas apa-apa, tidak ada sisi emosional yang terjadi pada pertemuan itu. Andai saja pertemuan itu bisa dibuat lebih emosional maka akan wajar saja seorang wanita yang berhati lembut menerima keberadaan anak dari suaminya dengan wanita lain seperi pada drama korea yang pernah kutonton, yaitu pink lipstick.
Lebih janggal lagi ketika Sekar ada janji untuk makan siang dengan Bram dan memberi tahu Prabu begitu saja, bahkan Prabu malah menawarkan untuk mengantar. Prabu tidak bersikap tegas pada Sekar. Sebagai seorang lelaki, harusnya ia melarang istrinya pergi dengan lelaki lain, apalagi yang berniat menghancurkan keluarganya.
pict from here
Jujur saja, aku masih kurang puas dengan jalan ceritanya, ada beberapa bagian yang perlu diperkuat supaya membuat kisahnya lebih menarik. Namun emosi yang diciptakan dalam novel ini sangat bagus. Aku bisa merasakan kegelisahan Sekar. Melihat kedua orang tua yang sering bertengkar memang menyisakan trauma yang dalam. Pasti ada rasa takut bilamana kehidupan rumah tangganya akan seperti kedua orangtuanya.
Novel ini seperti membisikkan pada pembaca, bahwa ada hal yang mungkin masih dirahasiakan pasanganmu, dan rahasia itu, bisa jadi bumerang dalam kehidupan rumah tanggamu. Namun masa lalu tetaplah masa lalu, karena tidak bisa diubah, maka jangan sampai merusak kebahagiaan dan masa depanmu. (cieleee... ikut nambahin quote-nya ya :p)


Komentar