Surat 'Cinta' untuk GagasMedia #11TanpaBatas


Aku nggak akan pernah lupa buku GagasMedia apa yang pertama kali aku baca, yang membangkitkan lagi semangat menulisku setelah sebelumnya menyerah karena menghadapi penolakan dari sejumlah Penerbit. Ketika itu aku bahkan malas membaca fiksi, sampai akhirnya sebuah buku bersampul Biru ada digenggamanku.
Sebelum mengenal GagasMedia, aku hanya membaca novel yang teman-temanku rekomendasikan tanpa memperhatikan siapa penulis apa lagi penerbitnya.
Novel itu berkaver cantik namun sarat akan kesenduan, di dalamnya pun dihiasi desain yang menarik, yang paling utama adalah diksinya yang sangat indah. Ketika membacanya, aku berandai-andai tulisanku akan sebagus itu. Lalu semangat menuliskupun bangkit lagi, dengan ambisi baru, aku ingin karya pertamaku diterbitkan oleh GagasMedia.
Setelah novel berkaver biru –berkat temanku yang sangat menyukai novel, yang lebih dulu akrab dengan GagasMedia– ku kembali menemukan novel-novel dengan cerita yang menawan, yang semakin menambahkan kecintaanku pada GagasMedia.
Ketika itu, aku baru jadi pembaca yang gemar meminjam dari satu buku ke buku lainnya. Menanti dalam baris antrian pinjaman yang panjang, lalu diam-diam membacanya ketika temanku yang sedang kebagian giliran pinjam sedang menganggurkan novel itu karena kesibukan lain. Sampai akhirnya aku punya cukup tabungan dari uang jajan yang aku sisihkan.
Satu-persatu novel-novel berlambang huruf ‘g’ ini aku kumpulkan, novel-novel yang pernah kubaca –dari pinjaman itu– aku beli, karena rasanya sayang melewatkan mengoleksi karya yang bagus dari penulis muda yang hebat. Akhirnya sepanjang tahun 2013 lalu, adalah tahun dimana aku membeli banyak sekali novel. Novel-novel yang diterbitkan oleh GagasMedia.
Sepanjang tahun 2013 pula, aku memberanikan diri menghadiri berbagai acara yang diadakan GagasMedia. Aku bersyukur jarak kota tempat tinggalku masih terbilang dekat menuju Jakarta.
Aku menghadiri acara Kumpul Ramadhan, disanalah awal pertemuanku dengan Mba Windry. Pada hari itu aku melihat atmosfer yang diciptakan Gagas adalah kekeluargaan. Aku berharap suatu saat jadi bagian dari mereka bukan hanya sebagai pembaca.
Kali kedua aku bertemu dengan Mba Windry adalah saat mengikuti diskusi novel karyanya yang bertema Setiap Tempat Punya Cerita dengan judul LONDON. Aku disambut dengan ramah oleh Mba Windry dan Om Em. Dan yang paling membahagiakan, sampai sekarang Mba Windry masih mengingatku, mengingat namaku.
Banyak novel yang diterbitkan Gagas telah di angkat ke layar lebar. Salah satunya Manusia Setengah Salmon. Demi memanjakan pembaca setianya, Gagas mengadakan acara nonton bersama seperti halnya ketika film Refrain tayang di bioskop.
Yang paling menyenangkan adalah saat Kumpul Penulis dan Pembaca. Aku bisa bertemu banyak penulis kebanggaan Gagas dalam satu hari juga para editor yang kukagumi, sampai sibuk berfoto dengan mereka, mengabadikan momen yang menyenangkan itu.
Aku akan terus setia menjadi bagian dari GagasMedia, sambil terus berusaha dan berdo’a agar impianku menjadi penulis dan editor GagasMedia segera tercapai.

Teruntuk #11TanpaBatas GagasMedia,
Dari pembacamu yang selalu setia




Komentar