[Review Novel] Rhapsody

Judul: Rhapsody
Penulis: Mahir Pradana
Editor: Ayuning
Proofreader: Gita Romadhona & Mita M. Supardi
Penata letak: Wahyu Suwarni
Ilustrasi isi: Anzi_Nadilla
Desainer sampul: Anissa Dwi Anindhika
Penerbit: Gagas Media
Tebal: 319+ vii hlm
Tahun Terbit: 2014
ISBN: 978-979-780-656-9

Hei, di sebelah dunia bagian mana kau sedang berada?

Sudah bertahun-tahun kau dan aku mencari arah.
Berkali-kali jatuh cinta pada selatan.
Menaruh keraguan pada barat.
Terus menunggu isyarat timur.
Hingga utara pun sudah tak lagi kita percaya.

Sudah kujejaki banyak kisah, kutemui pula banyak luka.
Ternyata, pada kisah lalu milik kitalah harapan itu tetap ada

Masih kuatkah kau dan aku berjalan?
Atau, kali ini, mungkin pulang akan menjadi jawaban.
------------------------------
Sudah lama sejak novel solo pertamanya diterbitkan GagasMedia, akhirnya kak Mahir kembali mengeluarkan karyanya dengan judul yang manis, Rhapsody.
Pertama kali lihat cover-nya, novel ini berhasil menarik perhatianku, cantik dan manis dengan warna biru langit yang lembut, kali kedua aku tertarik pada novel hanya dengan melihat cover-nya saja (yang pertama sudah pasti, Montase).
Berawal dari keinginan Kak Mahir yang ingin menulis catatan perjalanan, namun akhirnya banting setir dengan menjadikannya cerita fiksi dalam bentuk novel.
Berkisah tentang Abdul Latif a.k.a Al yang bermimpi untuk mendirikan hostel, sebagai bentuk kecintaannya pada traveling. Ia pernah berkelana ke beberapa negara Eropa dengan budget terbatas, dan hostel-lah penyelamatnya dalam melewati malam-malam dingin saat musim salju.


Well, sebuah cerita menarik tidak memerlukan nama karakter yang keren atau malah dibuat-buat. Let’s focus more on the story of my dream and not the story behind my name.
Dengan sebuah bangunan -yang dulu adalah sebuah hotel- peninggalan ayahnya, ia mengubah tempat itu menjadi sebuah hostel yang ia beri nama Makassar Paradise.
Namun keberuntungan belum berpihak padanya. Selama tiga bulan hostelnya sepi pengunjung dan itu membuatnya hampir putus asa sampai suatu hari seseorang berkebangsaan Spanyol bernama Miguel datang membawa angin perubahan. Menyelamatkan Al dan hostelnya.
Inilah kelemahan orang Indonesia pada umumnya. Terlalu banyak pertimbangan sebelum bekerja. Belum melaksanakan kewajiban sudah menuntut hak.
Gaya penulisannya yang santai membuat aku merasa seperti  membaca buku harian. Pemilihan namanya yang tidak berlebihan pun membuat novel ini makin menarik. Benar-benar deh, biasanya penulis selalu memberikan nama yang keren dan kebarat-baratan pada tokohnya, tapi kak Mahir malah dengan percaya dirinya memberikan nama tokoh utamanya dengan nama yang soleh, Abdul Latif.
Desain novel, dari cover sampai isinya menarik, dengan menyelipkan Lesson of Live pada tiap awal babnya. Didalamnya juga terdapat beberapa gambar yang menyerupai foto using untuk mengilustrasikan hostel tersebut.
Dan, bahwa kenyataan adalah sesuatu yang bersifat oportunis. Kenyataan selalu mencari kesempatan dalam kesempitan. Kenyataan sellau siap mengambil alih jika kita sudah menyerah mengejar impian kita
Petualangan Al mengelilingi negara Eropa juga sangat menarik dan digambarkan dengan sangat indah. Lalu pemaparannya tentang kota Makassar yang tidak kalah eksotis dengan kota lain di dunia ditambah sejarah-sejarah yang dimiliki kota Makassar memberi pesan agar kita menonjolkan sisi keindahan da tanah air kita. *tsah*
Namun kisah cinta yang disajikan novel ini begitu samar. Kak Mahir menghadirkan dua wanita –Nadia dan Sari- namun hanya selintas saja. Nadia yang pernah menjadi masa lalu Al, dan Sari yang hadir kembali. Kehadiran mereka hanya sesaat dan aku nggak bisa menebak dengan siapa Al akan melabuhkan hatinya.

Semoga setelah kembalinya Kak Mahir dari studinya, Kak Mahir jadi lebih produktif lagi menulis dengan karya-karya yang makin bagus.

Komentar